Senin, 10 Maret 2014

Pentingnya Manajemen Waktu



Sebagai seorang aktivis, mau tidak mau kita akan disuguhkan dengan berbagai kesibukan. Apalagi kita saat ini sedang menjadi seorang siswa maupun mahasiswa. DI sekolah maupun di kampus kita sudah mendapatkan tugas dari para pengajar. Ketika kita pulang ke rumah atau ke kontrakan, kita kembali disuguhi dengan urusan pribadi, ditambah lagi dengan tugas-tugas di organisasi yang kita ikuti. Satu organisasi yang diikuti saja terkadang kita kerepotan untuk menyelesaikan tugas, lalu bagaimana dengan teman-teman kita yang mengikuti organisasi lebih dari satu?

Nah, saya yakin bahwa para aktivis yang sukses (red:berprestasi) dalam dunia pendidikan dan organisasi, mereka memiliki manajemen waktu yang baik. Mereka mengalokasikan waktu yang disediakan Tuhan selama 24 jam sesuai dengan porsinya masing-masing. Mereka tahu kapan saatnya untuk belajar, kapan saatnya untuk mengerjakan tugas, kapan saatnya untuk beribadah, dan lain sebagainya. Di sisi lain mereka juga menentukan deadline kapan mereka harus menyelesaikan semua urusannya.

Oleh karena itu, kita harus memahami betapa pentingnya manajemen waktu. Bahkan Tuhan telah memotivasi kita dalam kitab sucinya pada surat Al-Insyirah ayat 7:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Nah, kalimat motivasi yang dapat mengambarkan peristiwa di atas, yaitu
 Kesibukan Yang Banyak Dan Terbengkalai . .
Bermula Dari Kesibukan Kecil Yang Ditunda Untuk Diselesaikan . .
– DH_BERMUHASABAH

Semoga tulisan saya yang singkat ini dapat bermanfaat untuk kita semua dalam menjalani kehidupan dengan segudang kesibukan dan urusan kita dimudahkan oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alamin ^_^

#Salam_Sukses_DH

Lupa & Ingat

Aku Bersyukur Memiliki Sifat Pelupa . . .
Karena Aku Bisa Melupakan Kejahatan Orang Lain Kepadaku . . .
Tapi, Aku Sedih Memiliki Sifat Pelupa . . .
Karena Aku Bisa Melupakan Kebaikan Orang Lain Kepadaku . . .

Aku Bersyukur Memiliki Sifat Pengingat . . .
Karena Aku Bisa Mengingat Kebaikan Orang Lain Kepadaku . . .
Tapi, Aku Sedih Memiliki SIfat Pengingat . . .
Karena Aku Bisa Mengingat Kejahatan Orang Lain Kepadaku . . .

Tuhan . . .
Semoga Aku Bisa Memiliki Sifat . . .
Pelupa & Pengingat Sewajarnya Saja . . .

Karena Aku Hanya Ingin . . .
Melupakan Kejahatan Orang Lain dan . . .
Mengingat Kebaikan Orang Lain . . .

Karena Aku Tidak Ingin . . .
Melupakan Kebaikan Orang Lain dan . . .
Mengingat Kejahatan Orang Lain . . .


Dedikasi Herlambang - 2014

Rabu, 05 Maret 2014

Aku Kalah dengan Seekor Cicak



           Seharian aku selalu disibukkan oleh aktivitas dunia, yang bisa dibilang tak ada sangkut-pautnya dengan urusan akhirat. Bahkan kesibukan ini serasa tidak pernah berhenti karena terjadi berulang-ulang sepanjang hari. . .
               Pagi hari, aku bersiap untuk menuju kantor. Aku makan pagi (sarapan) terlebih dahulu agar kondisi fsikku terjaga. Aku berangkat dengan tergesa-gesa menyusuri jalanan yang padat . . .
            Pagi hingga siang hari aku berada di kantor. Saat jam istirahat, aku makan siang bersama teman-temanku. Hingga jam istirahat pun berakhir, aku melanjutkan aktivitas keseharianku.
            Sore hari, aku pulang ke rumah dan harus melawati jalanan yang padat lagi. Bahkan aku tiba di rumah pada malam hari dengan kondisi tubuh yang lelah. Hal yang ingin aku lakukan saat itu adalah mandi dengan air hangat untuk meregangkan otot-ototku yang kaku, kemudian makan dengan masakan yang nikmat dan beristirahat di ranjang yang nyaman.
              Malam sudah larut, kemudian kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Kunikmati nyamannya tempat tidur ini. Aku termenung sembari menatap langit-langit kamarku dan melihat seekor cicak yang sedang menunggu mangsanya. Aku berpikir, seekor cicak pun harus berusaha untuk mendapat makanan. Lalu bagaimana denganku? Semua hal yang aku inginkan dan aku butuhkan sudah tersedia.
              Saat itu aku tersadar bahwa aku belum menyembah (red: ibadah sholat) Tuhan (red: Allah) yang telah memberiku semua hal. Namun, aku hanya sebatas tersadar dengan kondisi yang lelah. Kemudian aku pejamkan mata ini sejenak dan kuhembuskan napas dengan tenang . . .
            Lalu kubuka mataku dan terlihat sinar mentari telah menyingsing. Aku kembali tersadar bahwa semalam aku belum menyembah Tuhan . . . ?
               Aku termenung, “Apakah masih kurang waktu yang diberikan Tuhan selama 24 jam sehari untuk beraktivitas dan menyisihkan waktu beberapa menit saja untuk menyembah Tuhan?”
 
     Ampunilah aku Tuhan . . .
                 Atas kelalaianku dan orang terdekatku . . .
     Untuk menyembah-Mu . . .

     Bukankah Tuhanmu telah berfirman dalam kitab suci (red: Al-Quran)?
  “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:110).

     Sebagai makhluk Tuhan yang “beriman” kita meyakini bahwa setiap makhluk ciptaan Tuhan tentu akan menyambah penciptanya. Bahkan aku yakin bahwa seekor cicak yang sedang berada di langit-langit kamarku juga menyembah penciptanya.

     Lalu bagaimana dengan dirirku dan dirimu?

    Semoga kisah ini bisa menjadi bahan perenungan untuk kita bersama dan dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alamin ^_^

#Salam_Sukses_DH