Seharian
aku selalu disibukkan oleh aktivitas dunia, yang bisa dibilang tak ada
sangkut-pautnya dengan urusan akhirat. Bahkan kesibukan ini serasa tidak pernah berhenti karena terjadi berulang-ulang sepanjang hari. . .
Pagi
hari, aku bersiap untuk menuju kantor. Aku makan pagi (sarapan) terlebih dahulu
agar kondisi fsikku terjaga. Aku berangkat dengan tergesa-gesa menyusuri
jalanan yang padat . . .
Pagi
hingga siang hari aku berada di kantor. Saat jam istirahat, aku makan siang
bersama teman-temanku. Hingga jam istirahat pun berakhir, aku melanjutkan
aktivitas keseharianku.
Sore
hari, aku pulang ke rumah dan harus melawati jalanan yang padat lagi. Bahkan
aku tiba di rumah pada malam hari dengan kondisi tubuh yang lelah. Hal yang
ingin aku lakukan saat itu adalah mandi dengan air hangat untuk meregangkan
otot-ototku yang kaku, kemudian makan dengan masakan yang nikmat dan
beristirahat di ranjang yang nyaman.
Malam
sudah larut, kemudian kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Kunikmati nyamannya
tempat tidur ini. Aku termenung sembari menatap langit-langit kamarku dan
melihat seekor cicak yang sedang menunggu mangsanya. Aku berpikir, seekor cicak
pun harus berusaha untuk mendapat makanan. Lalu
bagaimana denganku? Semua
hal yang aku inginkan dan aku butuhkan sudah tersedia.
Saat
itu aku tersadar bahwa aku belum menyembah (red: ibadah sholat) Tuhan (red:
Allah) yang telah memberiku semua hal. Namun, aku hanya sebatas tersadar dengan
kondisi yang lelah. Kemudian aku pejamkan mata ini sejenak dan kuhembuskan
napas dengan tenang . . .
Lalu
kubuka mataku dan terlihat sinar mentari telah menyingsing. Aku kembali
tersadar bahwa semalam aku belum menyembah Tuhan . . . ?
Aku
termenung, “Apakah masih kurang waktu yang diberikan Tuhan selama 24 jam sehari
untuk beraktivitas dan menyisihkan waktu beberapa menit saja untuk menyembah
Tuhan?”
Ampunilah aku
Tuhan . . .
Atas
kelalaianku dan orang terdekatku . . .
Untuk
menyembah-Mu . . .
Bukankah
Tuhanmu telah berfirman dalam kitab suci (red: Al-Quran)?
“Dan
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu
usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:110).
Sebagai makhluk
Tuhan yang “beriman” kita meyakini bahwa setiap makhluk ciptaan Tuhan tentu
akan menyambah penciptanya. Bahkan aku yakin bahwa seekor cicak yang sedang
berada di langit-langit kamarku juga menyembah penciptanya.
Lalu bagaimana dengan dirirku dan dirimu?
Semoga
kisah ini bisa menjadi bahan perenungan untuk kita bersama dan dapat meningkatkan
keimanan kita kepada Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alamin ^_^
#Salam_Sukses_DH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar